Memes, Indonesia, and πŸ€–: HomeInspiration
 Kisah Dyah, Anak Tukang
 Gorengan yang Diterima di
 Kedokteran UGM
 Oleh Karla Farhana pada 06 Jul 2017, 14:14 WIB
 LINE
Gadis ini memang berasal dari keluarga pas-pasan. Ibunya, Ngatinem, menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Dia bekerja keras sejak suaminya meninggal pada 2007 lalu. Bukan cuma menggoreng gorengan, Ngatinem juga bekerja serabutan. Biasanya, dia menitipkan gorengannya ke tetangga untuk dijual di sebuah kantin sekolah. Pekerjaan tak tetap ini tak mendatangkan banyak uang. Penghasilan setiap bulannya pun tidak pernah lebih dari Rp500 ribu. "Gak tentu kerjanya, kalau ada tetangga yang minta tolong baru kerja. Kalau tidak ada ya di rumah saja sambil buat gorengan untuk dijual ke kantin," jelas Ngatinem. Untungnya, dia dibantu kedua anakyang yang telah berkeluarga untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Meskipun keduanya bukan anak kandung, tetapi mereka tetap mendukung dan membantu Dyah, anak semata wayangnya. Ternyata, Dyah dapat berkuliah di salah satu universitas top di Indonesia ini berkat beasiswa bidikmisi. Berkat kerja keras dan kemauan yang kuat,Dyah akhirnya mampu meraih cita-citanya untuk berkuliah di jurusan tersebut. Dyah, yang pada saat diterima di UGM masih berusia 19 tahun, memang sudah bercita-cita menjadi dokter sejak dia kecil. Ketika mendengar kabar dirinya diterima di kampus terkenal ini, dia tak mampu menahan rasa gembira dan haru. Dia pun langsung memeluk ibunya ketika mendengar berita baik ini. "Waktu dikabari kakak kalau diterima di FK UGM saya langsung berpelukan dengan ibu senang dan haru campur aduk jadi satu. Gak nyangka bisa diterima di jurusan favorit kebanyakan pelajar dengan persaingannya cukup ketat," katanya, seperti yang dikutip dari situs resmi UGM. Dyah, yang tinggal di daerah Nyamplung Kidul, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta ini, ingin menjadi dokter karena masih sedikit dokter di kampungnya. Kondisi inilah yang membuatnya bertekad ingin menjadi dokter, agar bisa menolong dan melayani masyarakat. Dyah yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, membuatnya terbiasa hidup prihatin. Namun, keadaan yang buruk ini tak membuatnya pasrah begitu saja. Dia lantas bekerja keras dengan tekun belajar sejak duduk di Sekolah Dasar. Ternyata, kerja keras dan ketekunannya ini membuahkan hasil yang luar biasa

Gadis ini memang berasal dari keluarga pas-pasan. Ibunya, Ngatinem, menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Dia bekerja keras sejak suaminya meninggal pada 2007 lalu. Bukan cuma menggoreng gorengan, Ngatinem juga bekerja serabutan. Biasanya, dia menitipkan gorengannya ke tetangga untuk dijual di sebuah kantin sekolah. Pekerjaan tak tetap ini tak mendatangkan banyak uang. Penghasilan setiap bulannya pun tidak pernah lebih dari Rp500 ribu. "Gak tentu kerjanya, kalau ada tetangga yang minta tolong baru kerja. Kalau tidak ada ya di rumah saja sambil buat gorengan untuk dijual ke kantin," jelas Ngatinem. Untungnya, dia dibantu kedua anakyang yang telah berkeluarga untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Meskipun keduanya bukan anak kandung, tetapi mereka tetap mendukung dan membantu Dyah, anak semata wayangnya. Ternyata, Dyah dapat berkuliah di salah satu universitas top di Indonesia ini berkat beasiswa bidikmisi. Berkat kerja keras dan kemauan yang kuat,Dyah akhirnya mampu meraih cita-citanya untuk berkuliah di jurusan tersebut. Dyah, yang pada saat diterima di UGM masih berusia 19 tahun, memang sudah bercita-cita menjadi dokter sejak dia kecil. Ketika mendengar kabar dirinya diterima di kampus terkenal ini, dia tak mampu menahan rasa gembira dan haru. Dia pun langsung memeluk ibunya ketika mendengar berita baik ini. "Waktu dikabari kakak kalau diterima di FK UGM saya langsung berpelukan dengan ibu senang dan haru campur aduk jadi satu. Gak nyangka bisa diterima di jurusan favorit kebanyakan pelajar dengan persaingannya cukup ketat," katanya, seperti yang dikutip dari situs resmi UGM. Dyah, yang tinggal di daerah Nyamplung Kidul, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta ini, ingin menjadi dokter karena masih sedikit dokter di kampungnya. Kondisi inilah yang membuatnya bertekad ingin menjadi dokter, agar bisa menolong dan melayani masyarakat. Dyah yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, membuatnya terbiasa hidup prihatin. Namun, keadaan yang buruk ini tak membuatnya pasrah begitu saja. Dia lantas bekerja keras dengan tekun belajar sejak duduk di Sekolah Dasar. Ternyata, kerja keras dan ketekunannya ini membuahkan hasil yang luar biasa

HomeInspiration Kisah Dyah Anak Tukang Gorengan yang Diterima di Kedokteran UGM Oleh Karla Farhana pada 06 Jul 2017 1414 WIB LINE Gadis ini memang berasal dari keluarga pas-pasan Ibunya Ngatinem menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga Dia bekerja keras sejak suaminya meninggal pada 2007 lalu Bukan cuma menggoreng gorengan Ngatinem juga bekerja serabutan Biasanya dia menitipkan gorengannya ke tetangga untuk dijual di sebuah kantin sekolah Pekerjaan tak tetap ini tak mendatangkan banyak uang Penghasilan setiap bulannya pun tidak pernah lebih dari Rp500 ribu Gak tentu kerjanya kalau ada tetangga yang minta tolong baru kerja Kalau tidak ada ya di rumah saja sambil buat gorengan untuk dijual ke kantin jelas Ngatinem Untungnya dia dibantu kedua anakyang yang telah berkeluarga untuk membiayai kebutuhan sehari-hari Meskipun keduanya bukan anak kandung tetapi mereka tetap mendukung dan membantu Dyah anak semata wayangnya Ternyata Dyah dapat berkuliah di salah satu universitas top di Indonesia ini berkat beasiswa bidikmisi Berkat kerja keras dan kemauan yang kuatDyah akhirnya mampu meraih cita-citanya untuk berkuliah di jurusan tersebut Dyah yang pada saat diterima di UGM masih berusia 19 tahun memang sudah bercita-cita menjadi dokter sejak dia kecil Ketika mendengar kabar dirinya diterima di kampus terkenal ini dia tak mampu menahan rasa gembira dan haru Dia pun langsung memeluk ibunya ketika mendengar berita baik ini Waktu dikabari kakak kalau diterima di FK UGM saya langsung berpelukan dengan ibu senang dan haru campur aduk jadi satu Gak nyangka bisa diterima di jurusan favorit kebanyakan pelajar dengan persaingannya cukup ketat katanya seperti yang dikutip dari situs resmi UGM Dyah yang tinggal di daerah Nyamplung Kidul Balecatur Gamping Sleman Yogyakarta ini ingin menjadi dokter karena masih sedikit dokter di kampungnya Kondisi inilah yang membuatnya bertekad ingin menjadi dokter agar bisa menolong dan melayani masyarakat Dyah yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana membuatnya terbiasa hidup prihatin Namun keadaan yang buruk ini tak membuatnya pasrah begitu saja Dia lantas bekerja keras dengan tekun belajar sejak duduk di Sekolah Dasar Ternyata kerja keras dan ketekunannya ini membuahkan hasil yang luar biasa Meme

found @ 7695 likes ON 2017-07-13 12:46:59 BY ME.ME